25 Des 2010

Daster, Pakaian Tidur Penyebab Perselingkuhan

Tidur merupakan salah satu cara istirahat paling baik. Tidur merupakan kunci utama penunjang aktivitas manusia. Dengan tidur yang cukup, manusia dapat beraktivitas atau bekerja secara optimal. Tidur merupakan proses pelepasan segala bentuk kelelahan dan pikiran-pikiran yang membuat manusia stres.

Sebagai sarana pelepas lelah, kenyamanan dan segala aspek pendukung tidur harus diperhatikan. Misalnya, pakaian tidur, lampu tidur, selimut. Bahkan, obat nyamuk bila diperlukan. Untuk daerah yang memiliki suhu panas, peran kipas angin atau AC sangat diperlukan untuk menambah kenyamanan tidur.

Jangan lupa, tempat tidur harus dalam keadaan bersih dan wangi. Tempat tidur yang kotor, misalnya seprei dan sarung bantal jarang dicuci, akan mengurangi esensi tidur. Selain esensi tidur berkurang, tempat tidur kotor dapat menyebabkan penyakit kulit. Misalnya, gatal-gatal. Jerawat pun bisa timbul dari sarung bantal yang kotor.

Sejatinya Pakaian Tidur

Di kalangan wanita, terutama ibu-ibu rumah tangga, daster merupakan pakaian tidur berukuran agak longgar yang paling digemari. Ukuran daster memang sengaja dibuat longgar agar memberi efek nyaman saat tidur. Bahan daster pun biasanya dibuat dari kain tipis, sejenis batik, agar terasa nyaman dan dingin saat dipakai.

Model daster bermacam-macam. Misalnya, model terusan panjang, model terusan selutut, model atasan dan bawahan celana, dan terusan selutut tanpa lengan. Mayoritas ibu-ibu mengenakan daster model terusan panjang maupun pendek agar lebih simpel pemakaiannya. Namun, ada pula ibu-ibu yang mengenakan model atasan bawahan.

Dari Kamar ke Dapur

Sejatinya, daster memang sengaja dibuat sebagai pakaian tidur. Sebagai pakaian tidur, berarti daster hanya boleh digunakan malam hari ketika tidur. Namun, bahannya yang dingin dan ukurannya yang longgar membuat ibu-ibu betah berlama-lama mengenakan daster. Daster pun seolah beralih fungsi sebagai pakaian khusus segala aktivitas kerumahan.

Ibu-ibu rumah tangga, terutama yang tidak bekerja kantoran atau kerja di luar rumah, mengenakan daster untuk melakukan berbagai aktivitas di rumah. Misalnya, memasak, mencuci, menyiram tanaman, mengepel, dan aktivitas rumah lain. Intinya, ibu-ibu tidak akan melepas pakaian “kebesarannya” selama masih menginjak lantai rumah.

Suami Protes

Daster ternyata tidak selamanya membuat nyaman, terutama bagi yang melihat. Bagi si pemakai, ibu-ibu, daster merupakan kenyamanan luar biasa. Akan tetapi, tidaklah berlaku demikian di mata orang yang melihat, dalam hal ini suami. Banyak suami yang sering protes karena melihat istrinya hanya mengenakan daster.

Alasannya, suami telah lelah seharian bekerja dan ketika pulang ke rumah ingin disambut oleh istri yang berdandan cantik serta berpakaian bagus. Namun, keinginan tinggallah keinginan. Ibu-ibu lebih senang memakai daster seharian dan semalaman. Hal ini membuat suami mulai bosan melihat istrinya berpenampilan semrawut dan tidak terawat.

Mencari “Ibu” Lain

Bosan melihat istri yang berpenampilan kumal, suami tak kalah aksi. Keinginannya tidak digubris sang istri sehingga ia memutuskan untuk melirik wanita lain yang tidak berdaster. Entah ini sebuah keegoisan, pemberontakan, atau memang watak seorang lelaki. Yang pasti, banyak lelaki berselingkuh gara-gara istrinya berdaster.

Oleh sebab itu, pergunakanlah pakaian tidur ini di tempatnya. Mulai saat ini, ibu-ibu harus juga memperhatikan keinginan suami. Pakailah daster hanya saat tidur. Memasak dan bersih-bersih boleh lah. Namun, setelah semua pekerjaan rumah selesai, gantilah daster dengan pakaian yang bagus dan berdandanlah secantik mungkin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar